Ahmad Fuadi Soroti Akses Bacaan di Tengah Pemangkasan Anggaran Perpusnas

Berita8 Views

Ahmad Fuadi Soroti Akses Bacaan di Tengah Pemangkasan Anggaran Perpusnas Persoalan akses terhadap buku kembali menjadi perhatian ketika Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menghadapi keterbatasan anggaran pada 2026. Di tengah keadaan tersebut, penulis Negeri 5 Menara, Ahmad Fuadi, kembali menegaskan pentingnya buku dan proses membaca sebagai bagian dari pembentukan kesadaran masyarakat.

Fuadi menyampaikan pandangannya dalam Gelar Wicara Hari Kunjung Perpustakaan bertajuk “Buku: Merawat Ingatan, Menggugah Kesadaran” yang berlangsung di Gedung Layanan Perpusnas, Jakarta, Jumat, 11 September 2026. Ia menjelaskan bahwa sebuah buku lahir melalui proses melihat peristiwa, merenungkannya, menuliskan pengalaman, kemudian sampai pada proses pembacaan oleh masyarakat.

Pernyataan itu hadir ketika kemampuan Perpusnas menyediakan buku kepada masyarakat sedang menghadapi tekanan anggaran. Pagu Perpusnas pada 2026 tercatat Rp377,99 miliar, turun dari Rp721,68 miliar pada 2025. Penurunan tersebut membuat sejumlah program yang sebelumnya menjangkau desa dan taman bacaan harus dihentikan sementara.

Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz bahkan menyatakan program bantuan bacaan bermutu tidak dapat dijalankan pada 2026 karena tidak tersedia anggaran. Padahal permintaan buku dari desa disebut tetap tinggi.

Buku Bukan Sekadar Barang yang Disimpan di Rak

Ahmad Fuadi melihat buku sebagai hasil dari perjalanan panjang sebuah gagasan. Penulis lebih dahulu menyaksikan sesuatu, memikirkan pengalaman tersebut, lalu mengubahnya menjadi tulisan yang pada akhirnya bertemu dengan pembaca.

Cara pandang itu memperlihatkan bahwa buku tidak selesai ketika keluar dari percetakan. Buku baru menjalankan fungsinya ketika dapat ditemukan, dipinjam, dibeli, dipelajari, dan dipertukarkan oleh masyarakat.

Fuadi sendiri selama bertahun tahun aktif dalam kegiatan literasi. Selain dikenal melalui Negeri 5 Menara, ia kerap mendatangi sekolah, pesantren, perpustakaan, dan forum pendidikan untuk berbicara mengenai kebiasaan membaca dan menulis.

Pada kegiatan Perpusnas 2020, Fuadi juga pernah mengatakan kebiasaan menulis harus diawali dengan keaktifan membaca. Menurutnya, dua kegiatan tersebut melekat satu sama lain.

Hubungan itu menjadi penting ketika akses terhadap buku mengalami gangguan. Sulit mengharapkan munculnya generasi penulis, peneliti, guru, atau pembaca kritis apabila bahan bacaan bermutu tidak tersedia secara merata.

Menurut penulis, persoalan literasi tidak dapat hanya diselesaikan dengan meminta masyarakat rajin membaca. Buku harus tersedia lebih dahulu dalam jumlah cukup, mudah ditemukan, dan dekat dengan tempat masyarakat tinggal.

Anggaran Perpusnas Turun Hampir Separuh

Tekanan terhadap layanan perpustakaan terlihat dari perubahan anggaran Perpusnas. Pada 2025, pagu anggaran lembaga tersebut tercatat Rp721,68 miliar. Untuk 2026, jumlahnya menjadi sekitar Rp377,99 miliar.

Komisi X DPR menyebut keterbatasan tersebut sebagai persoalan serius karena Perpusnas tidak hanya mengelola gedung perpustakaan nasional di Jakarta. Lembaga ini juga menjalankan pembinaan perpustakaan daerah, program bahan bacaan, peningkatan kemampuan pustakawan, serta penguatan kegiatan literasi di berbagai wilayah.

Perubahan anggaran sekitar Rp343 miliar membuat Perpusnas harus menentukan program yang tetap berjalan dan program yang ditunda.

Salah satu yang terkena adalah bantuan bacaan bermutu. Program tersebut sebelumnya menjadi jalur penting pengiriman buku langsung kepada masyarakat yang jauh dari toko buku maupun gedung perpustakaan besar.

Bantuan Buku ke Desa Terhenti pada 2026

Program bantuan bacaan bermutu mulai dijalankan secara luas pada 2024. Pada tahun tersebut, sekitar 10.000 perpustakaan desa, kelurahan, serta taman bacaan masyarakat menjadi sasaran.

Program dilanjutkan pada 2025 dengan target sekitar 10.000 lokasi. Cakupannya diperluas dengan memasukkan rumah ibadah sebagai salah satu ruang penyedia buku.

Setiap lokasi memperoleh sekitar 1.000 buku, rak, serta pelatihan bagi pengelola. Dengan rancangan tersebut, buku tidak hanya dikirim dalam kardus, tetapi disertai upaya agar koleksi benar benar digunakan.

Aminudin Aziz menjelaskan Perpusnas tidak dapat menjalankan pengiriman buku serupa pada 2026 akibat kebijakan efisiensi anggaran. Ia berharap program tersebut dapat dihidupkan kembali karena tanggapan dari masyarakat penerima dinilai sangat positif.

Penghentian satu tahun terlihat sederhana apabila hanya dilihat dari kalender. Namun, bagi desa yang belum memiliki koleksi memadai, satu tahun berarti tidak ada tambahan ratusan judul baru yang dapat dibaca anak, remaja, orang tua, guru, serta pegiat literasi.

Wilayah yang Jauh dari Toko Buku Paling Merasakan Tekanan

Masyarakat di kota besar mempunyai banyak pilihan ketika ingin mencari buku. Mereka dapat mendatangi toko, perpustakaan kota, kampus, pameran, atau membeli melalui perdagangan elektronik.

Keadaan berbeda ditemukan di sebagian wilayah perdesaan dan kepulauan. Toko buku dapat berjarak puluhan kilometer, ongkos kirim mahal, sedangkan koleksi perpustakaan sekolah belum tentu diperbarui secara rutin.

Dalam keadaan seperti itu, program distribusi Perpusnas mempunyai fungsi yang lebih luas daripada sekadar pemberian barang.

Buku yang dikirim ke satu taman bacaan dapat dipakai bergantian oleh puluhan hingga ratusan orang. Satu koleksi cerita anak dapat digunakan dalam kelas membaca, kegiatan keluarga, diskusi, atau program pendampingan setelah sekolah.

Itulah alasan Perpusnas kembali menempatkan bantuan bacaan bermutu sebagai prioritas untuk 2027. Pemerintah menyadari ketiadaan program pada 2026 meninggalkan kebutuhan yang belum terpenuhi.

Indeks Literasi Nasional Masih Berada di Kategori Rendah

Pemotongan anggaran berlangsung ketika Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat nasional masih berada pada angka 40,6 dari skala 100 pada awal 2026.

Berdasarkan pengelompokan Perpusnas, nilai 30 sampai 49,9 berada dalam kategori rendah. Angka tersebut menunjukkan masih terdapat pekerjaan besar untuk memperkuat perpustakaan, pemerataan bahan bacaan, pelayanan, serta keterlibatan masyarakat.

IPLM tidak hanya mengukur apakah seseorang suka buku. Indeks digunakan untuk melihat sejumlah unsur yang berhubungan dengan pembangunan literasi, termasuk ketersediaan layanan perpustakaan dan kemampuan lembaga menjangkau masyarakat.

Perpusnas juga mulai mengubah cara penilaiannya. Jumlah koleksi dan gedung tidak lagi menjadi satu satunya perhatian. Aktivitas masyarakat serta pemanfaatan layanan ikut menjadi ukuran.

Perubahan tersebut cukup penting. Perpustakaan dengan 20.000 buku yang jarang digunakan belum tentu lebih berhasil daripada taman bacaan dengan 2.000 buku yang setiap hari dipenuhi anak.

Kekurangan Buku Tidak Sama dengan Rendahnya Minat Baca

Pembicaraan mengenai literasi Indonesia sering diarahkan kepada minat membaca masyarakat. Warga dianggap tidak tertarik pada buku, sehingga rendahnya aktivitas membaca ditempatkan sebagai persoalan perilaku pribadi.

Perpusnas justru menilai persoalan itu lebih rumit.

Aminudin Aziz pernah menjelaskan rendahnya budaya baca tidak hanya disebabkan kurangnya minat. Ketersediaan bacaan bermutu yang sesuai kebutuhan pembaca ikut menentukan apakah seseorang mempunyai kesempatan untuk membangun kebiasaan membaca.

Anak tidak dapat diminta membaca setiap hari apabila perpustakaan sekolah hanya memiliki buku lama yang tidak sesuai usia. Orang tua juga sulit membangun kebiasaan membaca di rumah apabila harga buku menjadi penghalang dan perpustakaan terdekat berada jauh dari tempat tinggal.

Permasalahan menjadi semakin terasa ketika masyarakat membutuhkan buku selain buku pelajaran.

Novel, biografi, buku keterampilan, sejarah, kesehatan, ilmu pengetahuan populer, serta bacaan anak memberi jenis pengalaman yang berbeda dari buku sekolah.

Ahmad Fuadi Menempatkan Membaca dan Menulis sebagai Satu Rangkaian

Bagi Ahmad Fuadi, membaca mempunyai hubungan kuat dengan kemampuan menulis. Ia berkali kali membawa pesan tersebut dalam berbagai forum.

Sebelum dikenal sebagai novelis, Fuadi mempunyai pengalaman sebagai wartawan. Ia kemudian menghasilkan Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, Rantau 1 Muara, dan sejumlah karya lain.

Pada kegiatan literasi Perpusnas beberapa tahun sebelumnya, ia menyebut keaktifan membaca sebagai dasar penting untuk membangun kebiasaan menulis.

Pada acara Hari Kunjung Perpustakaan 2026, Fuadi kembali berbicara mengenai perjalanan pengalaman menuju sebuah buku dan bagaimana karya tersebut kemudian bertemu pembacanya.

Pandangannya memperlihatkan hubungan antara penulis, penerbit, perpustakaan, dan masyarakat. Penulis membutuhkan pembaca, tetapi pembaca juga membutuhkan jalur untuk menemukan karya.

Apabila jalur distribusi berhenti di kota besar, karya nasional tidak mudah mencapai masyarakat yang jauh dari pusat perdagangan buku.

Perpustakaan Diminta Tidak Hanya Menunggu Pengunjung

Keterbatasan anggaran juga mendorong Perpusnas mengubah pendekatan pelayanan. Perpustakaan diminta tidak hanya menunggu masyarakat datang ke gedung.

Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, mengatakan pustakawan dan pegiat literasi perlu aktif hadir di tengah masyarakat.

Menurutnya, gerakan literasi harus tumbuh dari keluarga, kemudian diperluas melalui sekolah, pesantren, taman baca, dan ruang masyarakat lainnya.

Pendekatan tersebut cocok dengan pola distribusi bahan bacaan yang telah dikembangkan sebelumnya.

Jika masyarakat sulit datang ke Perpusnas, koleksi perlu bergerak mendekati pembaca melalui perpustakaan desa, perpustakaan keliling, taman bacaan, rumah ibadah, dan sekolah.

Namun, pendekatan aktif membutuhkan anggaran. Kendaraan, buku, pustakawan, internet, pelatihan, pengiriman, serta pengelolaan koleksi tetap mempunyai biaya.

Relawan Literasi Tetap Diperkuat Meski Anggaran Terbatas

Perpusnas memilih mempertahankan beberapa program pada 2026. Salah satunya adalah Relawan Literasi Masyarakat atau Relima.

Jumlah Relima pada 2026 mencapai 360 orang. Mereka tersebar pada 322 wilayah kerja yang meliputi 251 kabupaten dan 71 kota. Jumlah relawan meningkat dari sekitar 180 orang pada tahun sebelumnya.

Relima bertugas membantu menghidupkan koleksi buku yang telah dikirim pada 2024 dan 2025.

Keberadaan buku memang belum otomatis menghasilkan kebiasaan membaca. Koleksi perlu diperkenalkan, digunakan dalam kegiatan, dipinjamkan, serta dihubungkan dengan kebutuhan masyarakat.

Seorang relawan dapat membuat kegiatan membaca anak, diskusi buku, kelas keterampilan, atau pertemuan warga berbasis bacaan.

Perpusnas memilih memperkuat bagian tersebut karena sekitar 20.000 lokasi telah menerima bantuan pada dua tahun sebelumnya. Koleksi yang tersedia perlu terus digunakan meskipun pengiriman baru berhenti pada 2026.

Menurut penulis, relawan dapat menghidupkan buku yang sudah tersedia, tetapi mereka tidak dapat menggantikan kebutuhan koleksi baru. Buku tetap aus, rusak, hilang, dan menjadi kurang sesuai dengan kebutuhan pembaca seiring berjalannya waktu.

Daerah Ikut Merasakan Berkurangnya Dukungan

Penyesuaian anggaran Perpusnas tidak hanya dirasakan di Jakarta. Daerah yang sebelumnya mengandalkan program pusat harus mencari cara untuk menjaga layanan melalui anggaran lokal atau kerja sama lainnya.

Di Kalimantan Timur, misalnya, pemerintah daerah mengakui pengurangan anggaran Perpusnas berpengaruh terhadap pengembangan perpustakaan daerah dan penyaluran bantuan buku.

Situasi seperti ini menunjukkan hubungan erat antara pemerintah pusat dan daerah.

Perpusnas menyediakan standar, pembinaan, koleksi, serta program nasional. Pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota mengelola layanan yang berhadapan langsung dengan masyarakat.

Ketika salah satu sisi kehilangan kemampuan pendanaan, kualitas layanan dapat berubah.

Daerah dengan pendapatan besar mungkin mampu menambah anggaran sendiri. Wilayah dengan kemampuan fiskal terbatas tidak mempunyai keleluasaan serupa, sehingga kesenjangan koleksi berpotensi melebar.

Buku Digital Belum Dapat Menggantikan Seluruh Buku Cetak

Layanan digital sering dianggap sebagai jawaban ketika distribusi buku fisik menghadapi biaya besar. Perpusnas memang mempunyai layanan elektronik yang memungkinkan masyarakat mengakses koleksi melalui perangkat.

Namun, digital tidak otomatis menyelesaikan persoalan pemerataan.

Pembaca membutuhkan telepon, komputer, listrik, jaringan, serta kemampuan menggunakan layanan. Anak kecil juga belum tentu nyaman menghabiskan waktu membaca panjang melalui layar.

Di sejumlah sekolah dan desa, koleksi cetak masih menjadi pilihan yang lebih mudah karena satu buku dapat langsung digunakan tanpa perangkat atau paket internet.

Digital lebih tepat ditempatkan sebagai pelengkap. Koleksi elektronik dapat menjangkau pembaca yang mempunyai koneksi, sementara buku cetak tetap dibutuhkan di sekolah, desa, taman bacaan, dan ruang keluarga.

Perpusnas sendiri memasukkan tiga paket jurnal elektronik dalam rencana tambahan anggaran 2027, bersamaan dengan program pengiriman buku fisik.

Anggaran 2027 Mulai Diarahkan untuk Memulihkan Program

Tekanan pada 2026 mendorong pembahasan lebih serius untuk tahun berikutnya.

Perpusnas memperoleh pagu anggaran 2027 sebesar Rp417,725 miliar. Lembaga itu kemudian mengusulkan tambahan Rp307,774 miliar kepada Komisi X DPR.

Komisi X menerima usulan tersebut untuk diteruskan melalui mekanisme pembahasan anggaran. Apabila seluruh tambahan dapat direalisasikan, total dukungan yang dibahas mencapai sekitar Rp725,47 miliar.

Tambahan Rp50 miliar yang sudah diperoleh sebelum usulan besar tersebut diarahkan kepada lima program prioritas.

Bantuan bacaan bermutu memperoleh porsi Rp40,309 miliar. Sasaran yang disiapkan mencakup 10.000 lokasi bantuan serta 10.000 lokasi pembinaan pengelola.

Program Relima mendapatkan Rp3,475 miliar dengan target relawan meningkat dari 360 menjadi 500 orang.

KKN Tematik Literasi disiapkan Rp2,3 miliar, tiga paket jurnal elektronik Rp3,5 miliar, dan akreditasi perpustakaan sekolah serta madrasah sekitar Rp415,7 juta.

Daerah 3T Menjadi Sasaran Penting pada 2027

Perpusnas juga menyiapkan Dana Alokasi Khusus nonfisik sebesar Rp118,7 miliar untuk 269 daerah pada 2027.

Daerah penerima dipilih melalui sejumlah persyaratan, termasuk pengajuan pemerintah daerah dan komitmen menyediakan dukungan anggaran sendiri.

Perhatian terhadap wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar menjadi penting karena biaya menghadirkan bahan bacaan di tempat tersebut lebih tinggi.

Pengiriman ke pulau kecil dapat membutuhkan kapal. Daerah pegunungan mempunyai biaya angkut besar. Jumlah penduduk yang tersebar juga membuat toko buku komersial sulit bertahan.

Di daerah seperti ini, perpustakaan publik mempunyai posisi yang berbeda dari perpustakaan di kota besar. Kehadirannya dapat menjadi salah satu dari sedikit tempat masyarakat memperoleh bacaan tanpa harus membelinya.

Tambahan Anggaran Tetap Harus Diikuti Ukuran Keberhasilan

Komisi X meminta tambahan anggaran tidak berhenti pada besarnya jumlah buku yang dibeli atau banyaknya lokasi penerima.

Ketua Komisi X DPR Agung Widyantoro meminta ukuran kinerja perpustakaan turut memperhitungkan kunjungan, kegiatan, serta perubahan budaya baca.

Permintaan itu penting karena pembelian buku dalam jumlah besar belum otomatis meningkatkan literasi.

Buku perlu dipilih berdasarkan usia dan kebutuhan masyarakat. Distribusi harus mencapai lokasi yang aktif. Pengelola memerlukan kemampuan untuk merawat koleksi dan membuat kegiatan.

Penggunaan anggaran juga dapat diperiksa melalui tingkat peminjaman, jumlah pengunjung, kegiatan komunitas, serta perkembangan kemampuan literasi masyarakat pada wilayah penerima.

Dengan cara tersebut, pemulihan anggaran pada 2027 dapat diarahkan bukan hanya untuk mengganti program yang hilang selama 2026, tetapi juga memperbaiki cara buku sampai dan digunakan oleh pembaca.

Hari Kunjung Perpustakaan Menjadi Pengingat soal Akses

Hari Kunjung Perpustakaan diperingati setiap 14 September. Pada 2026, Perpusnas menggunakan momentum tersebut untuk meminta perpustakaan lebih aktif hadir di tengah masyarakat.

Kehadiran Ahmad Fuadi dalam rangkaian acara memperkuat pembicaraan mengenai posisi buku di tengah arus informasi cepat.

Buku membutuhkan proses yang berbeda dari unggahan singkat di media sosial. Penulis mengumpulkan pengalaman, merenung, menulis, menyunting, lalu menyerahkannya kepada pembaca.

Proses panjang itu hanya akan bertemu pembacanya apabila terdapat jaringan yang memungkinkan buku berpindah dari penerbit menuju masyarakat.

Perpustakaan menjadi salah satu jaringan tersebut.

Ketika anggarannya menyusut, perhatian seharusnya tidak hanya tertuju pada gedung atau kegiatan seremoni yang dikurangi. Pertanyaan yang lebih penting adalah berapa desa yang kehilangan tambahan koleksi, berapa taman bacaan yang harus memakai buku lama lebih lama, dan berapa anak yang tidak mempunyai pilihan bacaan baru di dekat tempat tinggalnya.

Perdebatan mengenai anggaran Perpusnas pada akhirnya berkaitan langsung dengan kesempatan masyarakat memperoleh pengetahuan. Ketika buku sulit dibeli dan toko buku tidak tersedia di banyak wilayah, perpustakaan menjadi jalur yang membuat kegiatan membaca tetap dapat dilakukan tanpa bergantung pada kemampuan ekonomi keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *